Senin, 21 Maret 2011

psikolog social

Hubungan Psikologi dengan Ilmu – Ilmu Sosial Lainnya


Serge Moscovici,seorang psikolog social Prancis menyatakan bahwa psikologi social adalah jembatan di antara cabang – cabang pengetahuan social lainnya sebab psikologi social mengakui pentingnya dan memandang individu dalam suatu system social yang lebih luas dan karena itu menarik ke dalamnya sosiologi,ilmu politik,antropologi,dan ekonomi.

HUKUM DAN POLITIK TATA NEGARA

HUKUM DAN POLITIK TATA NEGARA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Hukum adalah sesuatu yang mengikat seseorang. Dimana pun manusia berada, ia akan selalu terikat oleh hukum. Tak ada satu pun manusia yang hidup di dunia ini yang tidak di atur oleh hukum. Hukum mempunyai peranan besar dalam hirup pikuk kehidupan manusia, bayangkan jika tidak ada hukum. Bagaimana kita bertingkah di bumi ini?
Hukum ini berlaku di mana saja, baik itu di Negara kita sendiri atau pun di luar negeri. Setiap Negara pasti memiliki hukum dan peraturan sendiri. Dimana setiap orang yang berada di wilayah tersebut wajib menaati peraturan dan hukum yang berlaku di sana. Hukum di dalam suatu Negara sangat berperan penting dalam mengatur suatu system ketatanegaraan suatu Negara. Ini dikarenakan Negara tidak akan pernah bisa berdiri kokoh tanpa adanya suatu aturan yang di buat oleh pemimpin ataupun pemerintah yang memiliki wewenang

Geografi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Geografi adalah ilmu tentang lokasi serta persamaan dan perbedaan (variasi) keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi. Kata geografi berasal dari bahasa yunani yaitu gê ("Bumi") dan graphein ("menulis", atau "menjelaskan").

FAKTA SEJARAH

FAKTA SEJARAH

A. Munculnya Negara/Kerajaan Bahari di Nusantara
Fakta sejarah menunjukkan kepada kita bahwa fenomena kehidupan kebaharian kekinian, khususnya bidang birokrasi/pemerintah, pelayaran, dan perikanan merupakan kontinyuitas dari proses perkembangan fluktuatif kehidupan kebaharian masa lalu

FONOLOGI

BAB II
PEMBAHASAN

A. Bunyi Ujaran
Bunyi ujaran yaitu unsure yang paling kecil dari pemotongan suatu arus ujaran atas bagian atau segmen.
Fungsi bunyi ujaran untuk membedakan arti itu disebut fonem. Jadi, fonem adalah kesatuan yang terkecil yang terjadi dari bunyi ujaran yang dapat membedakan arti.

B. Fonetik dan Fonemik
Bagian-bagian dari tata bahasa meliputi: fonologi, morfologi dan sintaksis
Fonologi yaitu bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya dalam ilmu bahasa.
Fonologi dibagi atas dua bagian berikut:
1. Fonetik yaitu ilmu yamg menyelidikidan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari cara menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia.
2. Fonemik yaitu ilmu yang mempelajari bunyi ujaran dalam fungsinya sebagai pembeda arti
Bunyi ujaran dihasilkan oleh berbagai macam kombinasi dari berbagai macam alat ucap yang terdapat dalam tubuh manusia.
Bunyi ujaran dihasilkan oleh tiga alat ucap berikut:
1. Udara : yang dialirkan keluar dari paru-paru
2. Articulator : bagian dari alat ucap yang dapat digerakkan atau digeserkan untuk
menimbulkan suatu bunyi.
3. Titik artikulasi : bagian dari alat ucap yang menjadi tujuan sentuh dari articulator.

C. Vokal
Vokal yaitu udara yang keluar dari paru-paru yang tidak mendapat halangan sedikit dan mendapat bunyi ujaran.
Vokal tidak tergantung dari kuat lembutnya udara, tetapi tergantung dari hal-hal berikut:
1
1. Posisi bibir, yaitu bentuk bibir pada waktu mengucapkan suatu bunyi.
 Bila bundar terjadi vokal: o, u, a.
 Bila rata akan terjadi vokal: i, e.
2. Tinggi rendahnya lidah, yaitu bagian rongga mulut yang amat elastis.
 Terjadi vokal depan; i, e.
 Terjadi vokal belakang: u,o,a.
 Bila lidah rata terjadi vokal pusat: e (pepet).
3. Maju mundurnya lidah, yaitu jarak yang terjadi antara lidah dan alveolum.
 Terjadi vokal atas: i, e.
 Terjadi vokal tengah: e (pepet).
 Terjadi vokal bawah: a.

D. Diftong
Diftong yaitu dua vokal berurutan yang diucapkan dalam satu waktu.
Contoh : ramai, pantai, dan lain- lain.
Dalam sehari- hari diftong yang diubah menjadi suatu bunyi tunggal (monoftong) disebut monoftongisasi.
Misalnya: pantai pante
pulau pulo
Sebaliknya, bunyi monoftong yang dapat berubah menjadi diftong disebut diftongisasi.
Misalnya: sentosa sentausa
anggota anggauta

E. Konsonan
Konsonan yaitu bunyi ujaran yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan.
1. Berdasarkan artikulator dan titik arkulasinya, konsonan dirinci atas bagian berikut:
a. Konsonan bilabial yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mempertemukan kedua buah bibir.
Contoh: p, b, m, w.
2
b. Konsonan labio-dental yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mempertemukan gigi atas sebagai titik artikulasi dan bibir bawah sebagai artikulatornya.
Contoh: f, v.
c. Konsonan apiko-interdental yaitu bunyi yang terjadi dengan ujung lidah (apex) yang bertindak sebagai artikulator dan daerah antar gigi (dens) sebagai titik artikulasinya.
Contoh: t, n (bahasa Indonesia); t, d, n (bahasa Jawa).
d. Konsonan apiko-arveorar yaitu bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah sebagai artikulator dan lengkung kaki gigi (alveolum) sebagai titik artikulatornya.
Contoh: d dan n (bahasa Indonesia);t, d, dan n (bahasa Jawa).
e. Konsonan palatal yaitu bunyi yang dihasilkan oleh bagian tengah lidah sebagai artikulator dan langit-langit kertas (palatum) sebagai titik artikulasinya.
Contoh: c, j, ny.
f. Konsonan velar yaitu bunyi yang dihasilkan oleh belakang lidah sebagai artikulator dan langit-langit lembut atau velum sebagai titik artikulasinya.
Contoh: k, g, ng, kh.
g. Hamzah adalah bunyi yang dihasilkan dengan posisi pita suara tertutup sama sekali, sehingga menghalangi udara yang keluar dari paru-paru.
h. Laringal yaitu bunyi yang terjadi karena pita suara yang terbuka lebar.
2. Berdasarkan halangannya, konsonan dapat dirinci atas beberapa bagian berikut:
a. Konsonan hambat yaitu konsonan yang terjadi karena udara yang keluar dari paru-paru sama sekali dihalangi.
Contoh: p, b, k, t, dan d.
b. Frikatif adalah udara yang bila keluar dari paru-paru digesekkan akan terjadi bunyi.
Contoh: f, v, dank h.
c. Spiran yaitu udara yang keluar dari paru-paru mendapat halangan berupa pengadukan.
Contoh: s, z, dan sy.
d. Lekwida bunyi yang dihasilkan dengan mengangkat lidah ke langit-langit.
e. Getar atau trill yaitu bunyi yang dihasilkan dengan mendekatkan lidah ke alveolum atau pangkal gigi.
3. Berdasarkan turut tidaknya pita suara bergetar, konsonan dapat dirinci atas beberapa bagian berikut:

3
a. Konsonan bersuara yaitu pita suara turut bergetar.
Contoh: b, d, n, g, dan w.
b. Konsonan tak bersuara yaitu bila pita suara tidak bergetar.
Contoh: m, n, ny, dan ng.
4. Berdasarkan jalannya, konsonan dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Konsonan oral yaitu udara keluar melalui rongga mulut.
Contoh: p, b, k, d, dan w.
b. Konsonan nasal yaitu udara yang keluar melalui rongga hidung.
Contoh: m, n, ny, dan ng.

F. Perubahan-perubahan Fonem
Perubahan yang penting dalam bahasa adalah sebagai berikut:
1. Asimilasi
Asimilasi yaitu proses dua bunyi yang tidak sama disamakan atau dijadikan hamper bersamaan.
a. Asimilasi berdasarkan tempat dari fonem dibagi atas:
1) Asimilasi progresif yaitu bunyi yang diasimilasikan terletak sesudah bunyi yang mengasimilasikannya.
2) Asimilasi regresif yaitu bunyi yang diasimilasikan mendahului bunyi yang mengasimilasikannya.
Contoh: in + moral menjadi inmoral immoral
ad + simulation menjadi assimilasi asimilasi

b. Asimilasi berdasarkan sifat asimilasi itu sendiri dibagi atas:
1) Asimilasi total yaitu dua fonem yang disamakandijadikan serupa betul.
Contoh: ad + salam menjadi assalam asalam
2) Asimilasi parsial yaitu dua fonem yang disamakan hanya disamakan sebagian saja.
Contoh: in + port menjadi import impor
2. Desimilasi
Desimilasi yaitu proses dua bunyi yang sama dijadikan tidak sama.
Contoh: lauk-lauk menjadi lauk pauk
sayur-sayur menjadi sayur-mayur
3. Suara bakti
Suara bakti adalah bunyi yang timbul antara dua fonem dan mempunyai fungsi untuk melancarka ucapan suatu kata.
Contoh: gurauan terdengar timbul bunyi huruf w
Pakaian terdengar timbul bunyi huruf y
4
G. Intonasi
Intonasi yaitu kerja sama antara tekanan, nada, tekanan waktu, dan perhentian-perhentian yang menyertai suatu tutur dari awal hingga perhentian akhir.
Macam-macam intonasi yaitu intonasi berita, intonasi pertanyaan, intonasi harapan, intonasi perintah, dan lain-lain. Intonasi tidak merupakan suatu gejala tunggal tetapi dari perpaduan bermacam-macam gejala yang lazim disebut tekanan, nada, dan perhentian.
1. Macam-macam tekanan
Tekanan dibedakan menjadi tiga hal berikut:
a. Tekanan dinamik yaitu tekanan keras yang diletakkan atas sebuah suku kata dan mempunyai fungsi untuk membedakan arti.
Contoh: r e f u s e = sampah
R e f u s e = menolak
b. Tekanan tinggi atau nada
Terdapat empat kesatuan nada yang digambarkan dengan tanda-tanda yang menunjukkan: nada menurun, nada rata, nada menurun lalu naik, dan nada mendaki.
Contoh: k u = kutu busuk
Kau = kera
c. Tekanan kuantitas yaitu tekanan yang terjadi karena suatu vokal yang lain.
Contoh: bhara = yang mengandung
Bhara = muatan
2. Tekanan dalam bahasa Indonesia
Secara terperinci, tekanan dalam bahasa Indonesia dibagi seperti berikut:
a. Tekanan keras atau stress
Contoh: perumahan
Suku kata mah terdengar lebih keras dari bagian lain.
b. Tekanan dinamik
Macam-macam tekanan dinamik:
1) tekanan dinamik silabis yaitu tekanan dinamik yang terdapat dalam suatu kata serta diletakkan atas suatu suku kata yang berfungsi membedakan arti.
2) Tekanan dinamik kata yaitu tekanan yang berfungsi untuk menekankan sepatah kata karena mendapat perhatian yang khusus.
c. Nada
Nada dapat dibedakan menjadi dua:
1) Nada rendah ialah nada yang dipergunakan seseorang dalam keadaan sedih.
5


2) Nada tinggi ialah nada yang dipergunakan seseorang dalam keadaan marah.
d. Tekanan waktu
Seseorang yang berada dalam ketakutan atau dalam keadaan tergesa-gesa akan bercakap dengan tergesa-gesa pula. Arus ujarannya dipaksakan mengambil waktu yang sesingkat-singkatnya. Sebaliknya, seseorang dalam keadaan tenang akan mengucapkan tuturnya itu dalam suatu jangka waktu yang cukup lama. Tekanan semacam ini yang diukur dengan jangka waktu disebut tekanan waktu. Sedangkan jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu tutur disebut durasi.
3. Perhentian
Suatu arus ujaran dapat dipotong-potong oleh perhentian-perhentian. Berikut ini beberapa macam perhentian.
a. Perhentian sebentar
Perhentian ini menunjukkan bahwa tutur itu masih akan dilanjutkan. Adapula perhentian yang menyatakan suatu tutur atau bagian dari suatu tutur sudah mencapai kebulatan. Perhentian ini disebut perhentian antara, dilambangkan dengan tanda koma (,).
b. Perhentian akhir
Perhentian ini dilambangkandengan tanda titik atau titik koma (. atau ;).

H. Huruf
Huruf adalah lambang atau gambaran dari bunyi. Manusia mengenal empat macam system tulisan berikut:
1. Tulisan piktograf: urusan beberapa gambar untuk melukiskan suatu peristiwa.
contoh: pada orang Indian Mexico.
2. Ideograf atau logograf: suatu tanda atau lambing mewakili sepatah kata atau pengertian.
Contoh: obat Cina.
3. Tulisan silabis:suatu tanda untuk menggambarkan suatu suku kata.
Contoh: tulisan Jepang, Dewa Negari.
4. Tulisan fonemis:sat bunyi.u tanda untuk melambangkan satu bunyi.
Contoh: huruf Latin, Yunani, dan Jerman.


6

EYD

ISI

A. Pemakaian Huruf

1. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia berjumlah 26 huruf (AZ).

2. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf /a/, /i/, /u/, /e/, /o/.

Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
a api padi lusa
e* enak petak sore
emas kena tipe
i itu simpan murni
o oleh kota radio
u ulang bumi ibu
Catatan : Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Upacara itu dihadiri pejabat teras pemerintah.
Kami menonton film seri (séri).
Pertandingan itu berakhir seri.

3. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf /b/, //c, /d/, /f/, /g/, /h/, /j/, /k/, /l/, /m/, /n/, /p/, /q/, /r/, /s/, /t/, /v/, /w/, /x/, /y/, dan /z/.
* Huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah.
** Huruf q dan x digunakan khusus untuk nama dan keperluan ilmu.

4. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan /ai/, /au/, dan /oi/.
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
ai ain syaitan pandai
au aula saudara harimau
oi – boikot amboi

5. Gabungan Huruf Konsonan (Kluster)
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu /kh/, /ng/, /ny/, dan /sy/.


Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
kh khusus akhir tarikh
ng ngilu bangun senang
ny nyata hanyut –
sy syarat isyarat arasy

B. Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh: Andi berkata, "Lihat Bu, apa yang telah saya buat di sekolah"
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh:
- Sejauh mana Anda sudah mengenal Alkitab?
- Ia mengasihi umat-Nya sedemikian rupa, sehingga Ia rela mengorbankan nyawa-Nya untuk mereka.

4. Huruf kapital dipakai sebagai nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh: Rasul Paulus, Nabi Musa, Raden Ajeng Kartini dan sebagainya.
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh: Presiden Megawati, Wakil Presiden Hamzah Haz, Sekretaris Jendral Pertanian, Gubernur Irian Jaya, dan sebagainya.
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh: bangsa Indonesia, suku Jawa, bahasa Inggris, dan sebagainya.
7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh: hari Senin, bulan Agustus, tahun Hijriah, hari Natal, Perang Padri, dan sebagainya.
8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Contoh: Asia Tenggara, Bukit Barisan, Jalan Diponegoro, dan sebagainya.
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.
Contoh: Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Contoh: Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, dan sebagainya.
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Contoh: Ia telah menyelesaikan Asas-Asas Hukum Perdata.
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.
Contoh: Dr. (doktor), S.S. (sarjana sastra), Prof. (profesor), dan sebagainya.
13. Kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, adik, dan paman yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Contoh:
- Surat Saudara sudah saya terima.
- Besok Paman akan datang.
14. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Contoh: Jangan menaruh barang-barang Anda di meja ini.

C. Huruf Miring
1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
2. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk mengaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
3. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Catatan :
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis di bawahnya.



D. Singkatan dan Akronim
a. Singkatan adalah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
1) Singkatan nama orang , nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
2) Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
3) Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
4) Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

b. Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
1) Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deretan kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
2) Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
3) Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Catatan :
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syarat berikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.




E. Angka dan Lambang Bilangan
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
2. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas dan isi, (ii) waktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas.
3. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat.
4. Angka digunakan juga menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
5. Penulisan lambang bilangan denganhuruf dilakukan sebagai berikut.
6. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secaraberurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
7. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
8. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca.
9. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.

F. Pemakaian Tanda Baca
1. Tanda Titik (.)

a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
• Ayahku tinggal di Solo.
• Hari ini tanggal 6 April 1973.
• Sudilah kiranya Saudara mengabulkan permohonan ini.


b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Misalnya:
 III.Departemen Dalam Negri
A. Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jendral Agraria

 1.Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf.

c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)

d. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara.Weltevreden: Balai Poestaka.



e. 1).Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

e. 2).Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
Nomor gironya 5645678.

f.Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya:
Acara Kunjungan Adam Malik
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD'45)

g.Tanda titik tidak dipakai di belakang
1) Alamat pengirim dan tanggal surat atau
2) Nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
17 April 1985 (tanpa titik) Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)
Jalan Arif 43 (tanpa titik) Jalan Cikini 71 (tanpa titik)


2. Tanda Koma (,)

a. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
•Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.
•Satu, dua, ... tiga!
b. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan.
Misalnya:
•Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
c. 1) Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
•Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
c. 2) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
•Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
d. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
•...Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
e. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
•O, begitu?
f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
(Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M.)
Misalnya:
•Kata Ibu, "Saya gembira sekali."
g. Tanda koma dipakai diantara
1) nama dan alamat,
2) bagian-bagian alamat,
3) tempat dan tanggal, dan
4) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
•Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
•Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
•Surabaya, 10 mei 1960
•Kuala Lumpur, Malaysia
h. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
i. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya:
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

j. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya
 Ratulangi, S.E.
 Ny. Khadijah, M.A.

k. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m
Rp12,50
l. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
(Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab V, Pasal F.)
Misalnya
•Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.
•Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.
m. Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
n. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya:
"Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim.
"Berdiri lurus-lurus!" perintahnya.

3. Tanda Titik Koma (;)

a. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
b. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar".

4. Tanda Titik Dua (:)

a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
•Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
•Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.
c. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Misalnya:
Ketua : B. Hartawan
Sekretaris : S. Handayani
Bendahara : Ahmad Wijaya
d. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : (meletakkan beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!"
Amir : "Baik, Bu." (mengangkat kopor dan masuk).
e. Tanda titik dua dipakai:
(i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
(ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci,
(iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta
(iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
Tempo, I (1971), 34:7
Surah Yasin:9
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit.
Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.

5. Tanda Hubung (–)

a. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris.
Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu ada ju-
ga cara yang baru.
Catatan : Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.


b. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
Misalnya:
Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
Kukuran baru ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.
c. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan.
d. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a
17-4-1991
e. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya:
• ber-evolusi
• dua puluh lima-ribuan (20 x 5000)
f. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan
(i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital,
(ii) ke- dengan angka,
(iii) angka dengan -an,
(iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan
(v) nama jabatan rangkap
Misalnya
se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara.
g. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Misalnya:
di-smash, pen-tackle-an

6. Tanda Pisah (—)

a. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
b. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom—telah mengubah persepsi kita tentang alam semesta.
c. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'.
Misalnya:
1910—1945
tanggal 12—17 April 1991
Catatan: Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.
7. Tanda Elipsis (...)
a. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya:
• Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.
b. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
• Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Catatan:
Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat.
Misalnya:
Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....

8. Tanda Tanya (?)

a. Tanda tanya dipakai pada akhir tanya.
Misalnya:
•Kapan ia berangkat?
b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
•Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).

9. Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya:
• Alangkah seramnya peristiwa itu!
• Bersihkan kamar itu sekarang juga!


10. Tanda Kurung ((...))

a. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
•Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
b. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
Misalnya:
•Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
c. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya:
•Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a).
d. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
•Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

11. Tanda Kurung Siku ([...])

a. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli.
Misalnya:
•Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
b. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Misalnya:
• Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 35–38]) perlu dibentangkan di sini.

12. Tanda Petik ("...")

a. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
•"Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
•Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."
b. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
•Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
c. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
•Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
d. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya:
•Kata Tono, "Saya juga minta satu."
e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya:
•Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
13. Tanda Petik Tunggal ('...')

a. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
Misalnya:
•Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
b. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J.)
Misalnya:
• feed-back 'balikan'

14. Tanda Garis Miring (/)

a. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
No. 7/PK/1973
Jalan Kramat III/10
b. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap.
Misalnya:
dikirimkan lewat darat/laut
(dikirimkan lewat darat atau laut)

harganya Rp25,00/lembar
(harganya Rp25,00 tiap lembar)


15. Tanda Penyingkat (Apostrof) (')

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya:
Ali 'kan kusurati.
('kan = akan)

G. PEMENGGALAN KATA

1. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut:

a. Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan kata itu dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah
Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.
Misalnya:
au-la
bukan
a-u-la

b. Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.
Misalnya:
ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang, mu-ta-khir

c. Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya:
man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, Ap-ril, bang-sa, makh-luk

d. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya:
in-strumen, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trik, ikh-las

2. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Misalnya:
makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah
Catatan:
a.Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
b.Akhiran -i tidak dipenggal.
(Lihat keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 1.)
c.Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut.
Misalnya: te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi

3. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan kata dapat dilakukan
(1) di antara unsur-unsur itu atau
(2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b, 1c, dan 1d di atas.
Misalnya:
bio-grafi, bi-o-gra-fi
foto-grafi, fo-to-gra-fi
intro-speksi, in-tro-spek-si
kilo-gram, ki-lo-gram
kilo-meter, ki-lo-me-ter
pasca-panen, pas-ca-pa-nen
Keterangan:
Nama orang, badan hukum, dan nama diri yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan kecuali jika ada pertimbangan khusus.




H. PELAFALAN
Pelafalan dapat merujuk pada:
• cara kata dari suatu bahasa diucapkan
• tata cara pengucapan kata
Kata dapat diucapkan dalam berbagai cara yang berbeda, bergantung dalam banyak faktor, seperti:
1. tempat mereka tumbuh
2. tempat mereka tinggal
3. etnis mereka
4. kelas sosial mereka
5. pendidikan mereka

morfologi

1.0 Pengenalan

Tatabahasa ialah satu kumpulan petua bagi membentuk perkataan, frasa, klausa dan ayat. Urutannya seperti ini :

- Perkataan bergabung membentuk frasa, frasa bergabung membentuk ayat
- Dua atau lebih ayat membentuk satu ayat majmuk. Ayat-ayat dalam ayat majmuk dikenali sebagai klausa (klausa juga dikenali sebagai ayat kecil)

Pengetahuan tatabahasa membantu pengguna bahasa membuat ungkapan yang lebih kompleks, dengan canggih dan betul.

1.1 Morfologi
Dua bidang penting dalam tatabahasa bahasa Melayu iaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi ialah bidang yang mengkaji struktur, pembentukan kata dan golongan kata. Struktur kata ialah susunan bentuk bunyi ujaran atau lambang (tulisan) yang menjadi unit bahasa yang bermakna. Bentuk kata pula ialah rupa unit tatabahasa sama ada bentuk tunggal atau hasil daripada proses pengimbuhan, pemajmukan, dan penggandaan. Penggolongan kata ialah proses menjeniskan perkataan berdasarkan keserupaan bentuk dan fungsi dengan anggota lain dalam golongan kata yang sama. Aspek morfologi yang diberikan tumpuan ialah:
i. Struktur kata yang merujuk kepada pola suku kata bagi:
- kata asli bahasa Melayu
- kata pinjaman bahasa Melayu
ii. Bentuk kata terdiri daripada:
- kata tunggal
- kata terbitan
- kata majmuk
- kata ganda
Manakala proses pembentukan kata bahasa Melayu meliputi:
- pengimbuhan
- penggandaan
- pemajmukan

Antara ketiga-tiga proses pembentukan di atas, yang amat kompleks ialah pengimbuhan. Oleh itu, penekanan hendaklah diberikan pada aspek penggunaan imbuhan yang betul dari sudut bentuk dan makna, termasuk aspek baru dalam proses pengimbuhan.


iii. Golongan kata terdiri daripada:
- kata nama
- kata ker ja
- kata adjektif
- kata tugas
Dalam morfologi, unit terkecil yang mempunyai makna dan tugas nahu ialah morfem. Morfem dan kata berbeza dari segi fungsi dan konsep.
Morfem
Morfem ialah unit terkecil yang menjadi unsur perkataan. Sekiranya kata tidak boleh dipecahkan kepada unit bermakna atau nahu yang lebih kecil, maka kata-kata ini terdiri daripada satu unit atau satu morfem. Contoh :

‘berpeluh’  2 morfem : ber+peluh
‘berkakikan”  3 morfem : ber+kaki+kan
‘saya’  1 morfem : saya


Minum tidak akan berfungsi dan memberi makna jika dipecahkan kepada mi dan num
Sebaliknya, kata diminum boleh dipecahkan kepada dua morfem, iaitu di dan minum. Kesimpulannya, perkataan boleh terdiri daripada beberapa morfem.
Morfem boleh bersifat bebas (boleh wujud bersendirian) atau terikat (hanya wujud bersama-sama morfem lain). Contoh :
- Morfem bebas – ‘saya’
- Morfem terikat – ‘ber’ dan ‘kan’, hanya boleh wujud dengan kata dasar bagi membentuk perkataan seperti ‘berkakikan’

Perkataan ditakrifkan sebagai satu unit ujaran yang bebas dan mengandungi makna. Ia terdiri daripada satu atau gabungan beberapa bentuk bunyi bahasa. Tegasnya, perkataan ialah bentuk bebas yang boleh berdiri sendiri, contohnya ialah kerusi, dapur dan meja.

Perbezaan antara perkataan dan morfem terletak pada sifat bebasnya. Ada morfem yang bersifat bebas dan ada yang bersifat terikat tetapi semua perkataan bersifat bebas, yakni dapat berdiri sendiri. Jelas di sini bahawa perkataan-perkataan terdiri daripada morfem tetapi tidak semua morfem itu perkataan.






Morfem dapat dibahagikan kepada dua jenis seperti berikut:
Morfem bebas
Morfem terikat






Morfem bebas Morfem terikat/imbuhan
1. Dapat berdiri sendiri, misalnya, minum, cuti, sekolah, periksa
2. mempunyai makna sendiri 1. Bentuk imbuhan, misalnya, mem, per, kan, ber
2. Tidak mempunyai makna, tapi mempunyai fungsi tatabahasa atau nahu. Boleh mengubah makna sesuatu kata, dan seterusnya makna ayat.
Morfem terikat/imbuhan pula boleh dibahagikan seperti berikut:
Morfem terikat/imbuhan
Awalan - ditambah pada bahagian depan kata dasar. Misalnya, membaca, menghafal.
Akhiran - ditambahkan pada bahagian belakang kata dasar
Sisipan - diselitkan di antara unsur-unsur kata dasar - misalnya, telapak (tapak).

Apitan - ditambahkan serentak pada awalan dan akhiran kata dasar. Misalnya, imbuhan per……..an, permainan.









1.2 Sintaksis
Sintaksis ialah bidang ilmu bahasa yang mengkaji bentuk, struktur, dan binaan atau konstruksi ayat. Ini bermakna, bidang sintaksis ialah kajian tentang hukum atau rumus tatabahasa yang mendasari kaedah penggabungan dan penyusunan
perkataan atau kelompok perkataan untuk membentuk ayat. Aspek sintaksis yang diberikan tumpuan ialah:
i. Unsur utama ayat yang terdiri daripada kata, frasa, klausa dan pembinaannya,
serta pembahagian subjek dan predikat
ii. Jenis ayat, iaitu ayat penyata, ayat tanya, ayat perintah, dan ayat seruan
iii. Ragam ayat, iaitu ayat aktif dan ayat pasif
iv. Susunan ayat, iaitu susunan biasa dan songsang
v. Binaan ayat:
- ayat dasar
- ayat tunggal
- ayat terbitan atau majmuk

vi. Proses penerbitan ayat:
- konsep ayat terbitan
- proses pengguguran
- proses penyusunan semula
- proses peluasan
vii. Aspek tanda baca

2.0 Aspek Morfologi

2.1 Jenis-jenis kata

Proses pembentukan kata menghasilkan bentuk kata tunggal, bentuk kata terbitan, bentuk kata majmuk dan bentuk kata ganda.

2.1.1 Kata Tunggal

Bentuk kata tunggal ialah bentuk kata yang terdiri daripada hanya satu bentuk kata dasar yakni tidak menerima apa-apa bentuk imbuhan atau kata dasar lain. Kebanyakan kata tunggal dalam Bahasa Melayu mempunyai potensi untuk diperluaskan dengan bentuk terbitan.

Kata tunggal boleh terdiri daripada satu suku kata dan dua atau lebih suku kata. Contoh:
satu suku kata – am, dan, roh, skru
dua suku kata – itu, ubi, aku






Berasaskan perlaksanaan tatabahasa, kata tunggal dapat dibahagikan kepada tiga jenis:

a) Kata tunggal yang merupakan unit bebas dan dapat berdiri sendiri sebagai satu perkataan yang bermakna. Contoh : orang, gitar, pen, botol
b) Kata tugas, iaitu unit yang yang tidak dapat berdiri sendiri tetapi memerlukan sekurang-kurangnya satu unit yang bebas untuk melaksanakan tugas nahunya. Contoh : dari, dan, pada, demi, untuk
c) Kata akronim, iaitu perkataan yang diterbitkan melalui proses penggabungan beberapa perkataan dan membentuk satu perkataan yang utuh. Bentuk-bentuk singkatan ini terdiri daripada suku kata atau huruf-huruf tertentu. Contoh :
berdikari – berdiri di atas kaki sendiri
komuter – keretapi berkomputer
kugiran – kumpulan gitar rancak
pawagam – panggung wayang gambar

2.1.2 Kata Terbitan

Kata terbitan ialah bentuk kata yang mengandungi kata dasar yang mendapat atau menerima imbuhan. Kata terbitan ini terbentuk melalui proses pengimbuhan iaitu proses yang menggandingkan imbuhan pada kata dasar dan menghasilkan empat bentuk kata terbitan :
a) Kata Terbitan Berawalan
b) Kata Terbitan Berakhiran
c) Kata Terbitan Berapitan
d) Kata Terbitan Bersisipan

Imbuhan ialah unit-unit bahasa yang ditambahkan pada bentuk-bentuk lain yang menyebabkan perubahan makna nahunya. Imbuhan dapat dibahagikan pada empat jenis :
a) imbuhan awalan
- unsur imbuhan yang ditambahkan pada bahagian hadapan kata dasar.
Contoh : imbuhan ‘ber’ dalam ‘bersukan’  ber+sukan

b) imbuhan akhiran
- unsur imbuhan yang hadir selepas kata dasar
Contoh : imbuhan ‘-an’ dalam ‘makanan’  makan+an
imbuhan ‘-kan’ dalam ‘kembalikan’  kembali+kan

c) imbuhan apitan
- imbuhan yang hadir secara melingkungi kata dasar iaitu dua bahagian imbuhan yang hadir serentak pada awal dan akhir perkataan
Contoh : imbuhan ‘men…..kan’ dalam ‘mendebarkan’  men+debar+kan
imbuhan ‘pe….an’ dalam ‘pendidikan’ pen+didik+an

d) imbuhan sisipan
- unsur imbuhan yang hadir di celahan kata dasar. Bentuk ini tidak lagi produktif dalam pembentukan kata terbitan, iaitu kata terbitan baru tidak lagi dibentuk dengan imbuhan sisipan
Contoh : imbuhan ‘…er…’ dalam ‘keruping’
imbuhan ‘…el…’ dalam ‘telunjuk’

2.1.3 Kata Terbitan Berawalan

Kata terbitan berawalan dapat wujud dalam kata nama terbitan, kata kerja terbitan,dan kata adjektif terbitan. Contoh :

a) Kata Nama : pelari, perakus ( imbuhan ‘pe’)
pembawa, pembuat (‘pem’)
suprakelas, supranasional (‘supra’)

b) Kata Kerja : melawan, mengikat, merasa (‘me’)
berjalan, berganti, berserta (‘ber’)

c) Kata Adjektif : terbesar, tercantik (‘ter’)
secerah, setebal, senipis (‘se’)

2.1.4 Kata Terbitan Berakhiran

Kata terbitan berakhiran dapat wujud dalam kata nama terbitan dan kata kerja terbitan sahaja. Contoh :

a) Kata Nama : pakaian, jahitan, mainan (‘-an’)
sasterawan, angkasawan (‘-wan’)
budiman, seniman (‘-man’)
peragawati, seniwati (‘-wati’)
nasionalisme, patriotisme (‘-isme’)

b) Kata Kerja : gunakan, besarkan, buatkan (‘-kan’)
duduki, turuti, berkati (‘-i’)

2.1.5 Kata Terbitan Berapitan

Kata terbitan berapitan dapat wujud dalam kata nama terbitan, kata kerja terbitan,dan kata adjektif terbitan. Contoh :

a) Kata Nama : pelaksanaan, perasaan (‘pe…an’)
kelainan, kedukaan (‘ke…an’)

b) Kata Kerja : memainkan, melukakan (‘me…kan’)
beralaskan, berlaukan (‘ber…kan’)
diyakini, disirami (‘di…i’)
dipergunakan (‘diper…kan’)
memperdagangkan (‘memper…kan’)
keselesaan (‘ke…an’)
c) Kata Adjektif : kemelayuan (‘ke…an’)

2.1.6 Kata Terbitan Bersisipan

Bentuk sisipan tidak lagi produktif dalam pembentukan kata terbitan, yakni kata terbitan baru tidak lagi dibentuk dengan sisipan. Bentuk-bentuk kata sisipan sudah membeku dalam kata terbitan tertentu dan tidak dapat hadir dalam perkataan –perkataan lain kecuali dalam beberapa istilah yang baru dicipta. Kata terbitan bersisipan dapat wujud dalam kata nama terbitan dan kata adjektif terbitan. Contoh :

a) Kata Nama : kelingking, telunjuk (‘..el..’)
keruping, seruling (‘..er..’)

b) Kata Adjektif : kelebak, selerak (‘..el..’)
gemilang, semerbak (‘..em..’)

2.1.7 Kata Majmuk

Kata majmuk didefinisikan sebagai bentuk kata yang wujud apabila dua kata dasar atau lebih dirangkaikan menjadi satu kesatuan sintaksis yang membawa makna tertentu. Kata majmuk bertindak sebagai satu unit dan dieja terpisah, melainkan kata majmuk yang telah mantap.

Kata majmuk terbahagai kepada tiga :

a) Kata Nama Majmuk. Contoh : setiausaha, warganegara, tandatangan, uji kaji, kebolehubahan

b) Kata Kerja Majmuk. Contoh : menandatangani, bertanggungjawab, memberitahu

c) Kata Sifat Majmuk. Contoh : sukacita, dukacita

d) Kata Tugas Majmuk. Contoh : apabila, apakala, apahal, apalagi, bagaimana


Berdasarkan jenisnya, kata majmuk dapat dipisahkan kepada tiga kelompok:

a) Kata majmuk yang terdiri daripada rangkaian kata bebas.
Contohnya gambar rajah, biru laut, terima kasih, kuning langsat. Dalam kategori ini termasuk bentuk kata yang digunakan sebagai gelaran seperti perdana menteri, raja muda, menteri besar, profesor madya.

b) Kata majmuk berbentuk istilah khusus.
Contohnya model linear, garis pusat, mata pelajaran, kertas kerja, kanta tangan.

c) Kata majmuk yang mendokong maksud kiasan iaitu simpulan bahasa.
Contohnya kaki ayam, buah hati, duit kopi, makan angin, pilih kasih.

Kata majmuk dapat dibentuk melalui pelbagai cara:

a) dua perkataan digabungkan dan ditulis sebagai satu perkataan. Contoh :
duka + cita = dukacita
jawatan + kuasa = jawatankuasa

b) perkataan dan fakta digabungkan dan ditulis sebagai satu perkataan. Contohnya walaupun dan adalah.

c) dua perkataan digabungkan tetapi tidak dieja sebagai satu perkataan, sebaliknya kekal sebagai dua perkataan. Contohnya uji bakat, ulang tayang, temu janji, hak milik.

d) dua perkataan bebas dijadikan satu perkataan dengan menggunakan imbuhan apitan dan ejaannya mestilah bercantum. Contoh :
pindah milik  dipindahmilikkan
tukar ganti  ditukargantikan

e) kata majmuk yang menerima imbuhan awalan atau akhiran sahaja tidak dicantum. Contoh :
campur aduk  bercampur aduk
temu bual  ditemu bual


Terdapat sebilangan kecil kata majmuk yahg penggunaanya sudah dianggap mantap sebagai satu perkataan yang utuh. Walaupun bentuk kata tersebut ternyata mengandungi dua kata dasar, perkataan yang demikian tetap dieja sebagai satu perkataan. Contohnya antarabangsa, beritahu, bumiputera, jawatankuasa, setiausaha.

Penggandaan kata majmuk melibatkan penggandaan unsur pertama kata sahaja, contohnya alat-alat tulis, balai-balai raya. Penggandaan yang melibatkan bentuk yang telah mantap melibatkan seluruh unsur. Contohnya setiausaha-setiausaha, pesuruhjaya-pesuruhjaya.





2.1.8 Kata Ganda

Menurut Nik Safiah Karim, kata ganda ialah bentuk kata yang dihasilkan dengan menggandakan atau mengulangi kata dasar, sama ada kata ganda tersebut diulangi secara keseluruhan atau pada bahagian-bahagian tertentu dan dengan imbuhan atau tanpa imbuhan.

Arbak Othman memberikan definisi penggandaan sebagai proses bagaimana suatu kata dasar atau sebahagian daripadanya diulang.

Bahagian yang diulang ini dipanggil gandaan yang boleh mendahului atau mengikuti dasarnya.

Terdapat tiga jenis kata ganda :

a) Penggandaan penuh
- proses yang menggandakan keseluruhan kata ganda. Gandaan penuh boleh dibuat pada kata akar dan kata terbitan. Kata nama, kata kerja dan kata sifat jua boleh digandakan. Contohnya pulau-pulau, cantik-cantik, anak-anak dan lari-lari. Kata nama yang mengandungi imbuhan juga boleh digandakan sepenuhnya, iaitu pemimpin-pemimpin, pelatih-pelatih.

b) Penggandaan separa
- proses yang menggandakan sebahagian kata dasar. Kata dasar boleh merupakan kata tunggal atau kata terbitan. Penggandan separa boleh berlaku di hadapan atau di belakang kata dasar. Contohnya kekura, pepohon, berlari-lari, kecil-kecilan.

c) Penggandaan berentak
- proses yang menggandakan kata dasar mengikut rentak bunyi tertentu dalam kata dasar itu. Dalam penggandaan berentak, seluruh kata dasar digandakan dan bunyi-bunyi tertentu diulang atau diubah.
- Penggandaan berentak boleh dibahagikan kepada tiga jenis :

i) Penggandaan berentak pengulangan vokal - penggandaan yang mempunyai ciri-ciri persamaan pada bunyi-bunyi vokal tertentu, iaitu terdapat ciri-ciri keharmonian vokal. Contohnya sayur-mayur, selok-belok, hina-dina

ii) Penggandaan berentak pengulangan konsonan - iaitu penggandaan yang mempunyai ciri-ciri persamaan pada bunyi-bunyi konsonan tertentu. Contohnya gunung-ganang, batu-batan, mandi-manda.

iii) Penggandaan berentak bebas - iaitu penggandaan yang tidak mempunyai ciri-ciri persamaan pada bunyi vokal atau konsonan. Contohnya susur-galur, sahabat-handai, tinggi-lampai.

Terdapat sekurang-kurangnya lima makna dalam penggandaan kata.

a) gandaan sebagai penanda jamak, iaitu jumlah yang banyak. Contohnya meja-meja, bukit-bukau
b) gandaan sebagai penanda nama haiwan. Contohnya biri-biri, rama-rama dan kupu-kupu
c) gandaan sebagai penanda makna serupa. Contohnya langit-langit, gula-gula
d) gandaan sebagai penanda pelbagai jenis. Contohnya sayur-mayur, kuih-muih.
e) Gandaan sebagai penanda tidak tentu. Contohnya apa-apa, siapa-siapa.


3.0 RAGAM AYAT

Ragam ayat terdiri daripada ayat aktif dan pasif.
3.1 Ayat aktif
Ayat aktif mengandungi kata kerja aktif yang mengutamakan subjek asal sebagai judul atau unsur yang diterangkan. Ayat aktif terdiri daripada ayat aktif transitif dan ayat aktif tak transitif.

Ayat aktif transitif mengandungi kata kerja transitif yang perlu diikuti oleh frasa nama atau klausa komplemen sebagai objek atau unsur penyambutnya. Kata kerja transitif mempunyai dua bentuk : yang pertama tidak menerima imbuhan ( seperti makan, minum) dan yang kedua menerima imbuhan ‘men-‘ ( seperti memanggil, melanda)

Contoh :
- frasa nama sebagai objek:
Guru disiplin memanggil pelajar itu.
Banjir kilat melanda Kuala Lumpur.

- ayat komplemen sebagai
Pengawas memberitahu bahawa pelajar itu sudah pulang.
Pengetua mengumumkan bahawa kawasan sekolah perlu dibersihkan setiap hari.
3.2 Ayat Pasif

Ayat pasif ialah ayat yang dibina dengan mengutamakan objek asal sebagai pokok atau bahagian yang diterangkan. Ayat ini mempunyai kata kerja yang ditandai oleh penanda pasif seperti imbuhan ‘di-‘, ‘ter-‘, ‘ber-‘ serta ‘ke-‘dan ‘-an’.
Contoh :
Kain itu belum berlipat
Penjenayah itu ditangkap oleh polis.
- bagi ayat pasif yang berkata kerja pasif ‘di-‘, kata sendi ‘oleh’ dan frasa nama yang berkedudukan selepas kata kerja boleh digugurkan tanpa merosakkan makna struktur ayat
Contoh : Penjenayah itu ditangkap polis malam tadi.
Namun jika binaan ‘oleh’ dan frasa nama itu terletak jauh daripada kata kerja, maka ‘oleh’ tidak boleh digugurkan.

Bagi ayat pasif dengan kata ganti diri orang pertama dan kedua, jenis kata ganti nama diri diletakkan di hadapan kata kerja dasar. Ini kerana kata ganti nama diri pertama dan kedua tidak boleh menerima kata kerja dengan imbuhan pasif ‘di-‘.
Contoh : Buku itu jangan sekali-kali kau baca lagi.

Ayat pasif dengan kata bantu pasif ‘kena’ pula mempunyai perkataan ‘kena’ di hadapan kata kerja dasar yang tidak menerima awalan.
Contoh : Pengedar dadah itu kena tangkap.


4.0 Rancangan Pengajaran Harian Bahasa Melayu

Minggu : Minggu Keenam (6)
Tarikh : 10 Februari 2009
Tingkatan : 5C
Tajuk : Kata Majmuk
Objektif : Pada akhir pelajaran, para pelajar diharapkan dapat:
1. Mengetahui definisi kata majmuk.
2. Menyatakan jenis-jenis kata majmuk dan memberikan contoh bagi setiap jenisnya.
3. Mengetahui tentang pembentukan kata majmuk yang mengandungi kata adjektif tunggal, kata adjektif terbitan, kata adjektif majmuk, dan kata adjektif ganda.
4. Menyenaraikan contoh-contoh kata majmuk dari keratan akhbar dengan betul secara bertulis.
5. Menjawab 8 daripada 10 soalan kata majmuk dengan betul di dalam lembaran kerja.

HPU : 7.0
HPK : 7.1 7.3
HHP : Aras 1 (ii) Aras 1 (iii) Aras 2 (iii) Aras 2 (iii)

Aktiviti :
 Guru menjelaskan tentang kata majmuk dan pecahan-pecahan kata majmuk .
 Guru mengemukakan soalan ringkas bercorak kritis kepada para pelajar untuk dijawab secara lisan (menggunakan ayat sendiri).
 Komentar akan diajukan oleh guru terhadap setiap jawapan yang diberikan oleh pelajar.
 Para pelajar akan menyenaraikan beberapa contoh kata majmuk di atas kertas mahjong dan pembentangan kumpulan akan dijalankan.

KBT : Kontekstual
: Kecerdasan Pelbagai

Refleksi
Pengajaran dan pembelajaran dapat berlangsung dengan menyeronokkan kerana para pelajar gemarkan penyelitan unsur komedi dan jenaka di samping penggunaan bahan bantu mengajar berbentuk keratan akhbar dan persembahan power point.
Rancangan Harian
Langkah/
Masa Isi Pelajaran Aktiviti murid / aktiviti guru Catatan
Set Induksi
(5 minit) Keratan akhbar :
• Sayang-menyayangi
• Tolong-menolong
• Jujur
• Ikhlas
• Bertanggu ngjawab
• Guru memaparkan keratan akhbar menggunakan power point.
• Murid diminta melihat paparan slaid secara aktif
• Guru bersoal jawab dengan murid mengenai isi penting yang terdapat dalam keratan akhbar yang dipaparkan. • Kecerdasan pelbagai
• Interpersonal
Nilai
Patriotisme
Langkah 1
(10 minit)





Paparan power point :
• Definisi kata majmuk
• Contoh kata majmuk bercantum dengan partikel pun
• Contoh kata majmuk yang mantap penggunaannya dan dieja bercantum
• Contoh kata majmuk yang dieja terpisah

Aktiviti 1
• Murid diminta membentuk kepada beberapa kumpulan kecil.
• Guru memaparkan slaid power point mengenai kata majmuk.
• Guru menerangkan mengenai definisi kata majmuk menggunakan slaid power point dan bersoal jawab dengan murid.

Aktiviti 3
• Guru menunjukkan contoh-contoh kata majmuk dengan paparan slaid power point Kontekstual
Kecedasan Pelbagai
• Interpersonal
Langkah 2
( 15 minit)



Keratan akhbar :
• Kata majmuk dengan partikel pun
• Kata majmuk yang telah mantap penggunaan
• Kata majmuk yang dieja terpisah Aktiviti 1
• Guru mengedarkan keratan akhbar. Guru membaca keratan akhbar tersebut terlebih dahulu.
• Murid membaca bersama-sama guru.

Aktiviti 2
• Murid diminta menyenaraikan beberapa kata nama majmuk yang terdapat dalam keratan akhbar di atas kertas mahjong yang diberi.
Aktiviti 3
• Semua kumpulan hendaklah memaparkan hasilan kumpulan masing-masing di hadapan kelas. Nilai:
• Patriotisme

Belajar cara belajar
• Mencatat nota
• Mencirikan
Langkah 3
(15 minit)



Hasilan perbincangan kumpulan :
Pembentangan Aktiviti 1
• Guru dan murid membincangkan mengenai hasilan setiap kumpulan secara lisan.
Belajar Cara Belajar
• Membuat rujukan
Kecerdasan Pelbagai:
• Interpersonal
Langkah 4
(15 minit)
Lembaran kerja :
• Isi tempat kosong berdasarkan kata majmuk yang diberi.

Aktiviti 1
• .Guru mengedarkan lembaran kerja berkaitan kata majmuk.
• Murid diminta untuk menjawab soalan-soalan di dalam lembaran kerja.
• Perbincangan mengenai lembaran kerja yang telah di jawab oleh murid. Kecerdasan Pelbagai
• Interpersonal
• Intrapersonal

5.0 LATIHAN :
1. Mereka berangkat ke Amerika Syarikat dengan _________________
(kereta, kapal, layar) terbang dari Singapura pagi semalam.
2. Pegawai pertanian itu menasihatkan mereka menggunakan baja ______
(tanah, pasir, bata) bagi menyuburkan tanamannya.
3. Mesir memberi __________ (fikiran, amaran, kata) dua kepada Israel supaya meninggalkan Semenanjung Gaza.
4. Semua (maha, warga, para) siswa yang mendaftar dikehendaki menyertai program orientasi.
5. ___________ (rakyat, marhaen, warga) negara yang bertanggungjawab sentiasa taat terhadap hukum dan undang-undang negaranya.
6. Sultan itu tidak mahu melantik ________________ (putera, puteri, raja) untuk menggantikannya.
7. ____________ (lebuh, jalan, lorong) raya timur barat yang dibina dari Kelantan ke Kedah memakan masa bertahun-tahun sebelum disiapkan.
8. Pulau Pinang dan Melaka mesti melantik ________________ (ketua, perdana, datuk) menteri masing-masing.
9. Mamalia mempunyai ________________ (tulang, batang, urat) belakang sebagai pusat sistem sarafnya.
10. Semua anggota yang baru perlu berangkat ke __________________ (padang, lorong, jalan) tembak untuk latihan menembak.




RUJUKAN :
1. Abdullah Hassan. (2006). Morfologi ( Siri pengajaran dan
pembelajaran Bahasa Melayu. Batu Caves : PTS Publications & Distributors Sdn. Bhd.
2. Ali Mahmood. Dr (2008). HMBL2103 Pembelajaran morfo sintaksis
Bahasa Melayu. Seri Kembangan : Open University Malaysia.
3. Arbak Othman. (1985). Mengajar tatabahasa. Kuala Lumpur : Dewan
Bahasa dan Pustaka.
4. Arbak Othman. (2000). Pengajaran nahu Bahasa Melayu. Serdang :
Penerbit Universiti Putra Malaysia.
5. Nik Safiah Karim. (1989). Tatabahasa dewan. Kuala Lumpur : Dewan
Bahasa dan Pustaka.
6. Sulaiman Masri. (2006). Tatabahasa melayu. Kuala Lumpur : Utusan
Publications & Distributors Sdn. Bhd.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved | Tugas Kuliah Designed by Bloggers Template | Exercise Equipment | Watch Movies