Senin, 21 Maret 2011

ANTROPOLOGI

ANTROPOLOGI

1. Pengertian Antropologi

Secara harfiah, antropologi adalah ilmu (logos) tentang manusia (antropos).
Menurut Leonard Siregar (Dosen Tetap di Jurusan Antropologi Universitas Cenderawasih dan Ketua Laboratorium Antropologi Universitas Cenderawasih),

Anthropology is about all human beings, and it is the charge of the Anthropology to tell about human story, not just the good side but also the bad. It should include notjust one group of people, but others. It shouldn’t illustrate just one aspect of human life, but all.
Secara sederhana, antropologi adalah ilmu yang mempelajari karakteristik hidup manusia, dengan berorientasi pada kebudayaan yang dihubungkan dengan ciri-ciri sosio-psikologis atau cirri-ciri biologis, melalui pendekatan holistic.
Antropologi tertarik pada kebudayaan dan pendekatan holistic. Pendekatan holistic berarti cara melihat atau memandang sesuatu sebagai suatu kebulatan yang utuh. Semua konsep, generalisasi dan teori yang membentuk struktur antropologi berkaitan dengan aktivitas, peralatan dan system kepercayaan yang dalam antropologi disebut kebudayaan, sesuatu yang unik bagi manusia. Walaupun banyak jenis binatang hidup berkelompok, tetapi hanya manusialah yang memilki kebudayaan.


2. Bidang Kajian Antropologi

Seperti ilmu-ilmu lain, Antropologi juga mempunyai bidang kajian atau
pengkhususan. Secara umum ada 4 bidang spesialisasi dari Antropologi,
yaitu Antropologi Fisik atau AntropologiRagawi. Arkeologi atau prahistori, Antropologi Sosial-Budaya dan Etnografi, etnologi dan linguistik.

a. Antropologi Fisik
Antropologi Fisik tertarik pada sisi fisik dari manusia. Termasuk
didalamnya mempelajari gen-gen yang menentukan struktur dari tubuh
manusia. Mereka melihat perkembangan mahluk manusia sejak manusia itu
mulai ada di bumi sampai manusia yang ada sekarang ini. Beberapa ahli
Antropologi Fisik menjadi terkenal dengan penemuan-penemuan fosil yang
membantu memberikan keterangan mengenai perkembangan manusia.
Ahli Antropologi Fisik yang lain menjadi terkenal karena keahlian forensiknya;
mereka membantu dengan menyampaikan pendapat mereka pada sidang-sidang
pengadilan dan membantu pihak berwenang dalam penyelidikan
kasus-kasus pembunuhan.

b. Arkeologi
Ahli Arkeologi bekerja mencari benda-benda peninggalan manusia dari
masa lampau. Mereka akhirnya banyak melakukan penggalian untuk
menemukan sisa-sisa peralatan hidup atau senjata. Benda –benda ini adalah
barang tambang mereka. Tujuannya adalah menggunakan bukti-bukti yang
mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau membentuk kembali model-model
kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada bentuk
kehidupan yang direnkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan-dugaan
bagaimana masyarakat yang sisa-sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana
mereka datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu
berinteraksi.

c. Antropologi Sosial-Budaya
Antropologi Sosial-Budaya atau lebih sering disebut Antropologi Budaya
berhubungan dengan apa yang sering disebut dengan Etnologi. Ilmu ini
mempelajari tingkah-laku manusia, baik itu tingkah-laku individu atau
tingkah laku kelompok. Tingkah-laku yang dipelajari disini bukan hanya
kegiatan yang bisa diamati dengan mata saja, tetapi juga apa yang ada dalam
pikiran mereka. Pada manusia, tingkah-laku ini tergantung pada proses
pembelajaran. Apa yang mereka lakukan adalah hasil dari proses belajar
yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya disadari atau tidak.
Mereka mempelajari bagaimana bertingkah-laku ini dengan cara mencontoh
atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan alam dan sosial
yang ada disekelilingnya. Inilah yang oleh para ahli Antropologi disebut
dengan kebudayaan. Kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia, baik
itu kelompok kecil maupun kelompok yang sangat besar inilah yang menjadi
objek spesial dari penelitian-penelitian Antropologi Sosial Budaya. Dalam
perkembangannya Antropologi Sosial-Budaya ini memecah lagi kedalam
bentuk-bentuk spesialisasi atau pengkhususan disesuaikan dengan bidang
kajian yang dipelajari atau diteliti. Antroplogi Hukum yang mempelajari
bentuk-bentuk hukum pada kelompok-kelompok masyarakat atau
Antropologi Ekonomi yang mempelajari gejala-gejala serta bentuk-bentuk
perekonomian pada kelompok-kelompok masyarakat adalah dua contoh dari
sekian banyak bentuk spesialasi dalam Antropologi Sosial-Budaya.

d. Etnografi, etnologi dan linguistik
Ada tiga sub-bidang antropologi yang sangat berdekatan satu dengan yang lainnya, yaitu etnografi, etnologi dan linguistik. Etnografi adalah kajian antropologi yang mendeskripsikan secara akurat kebudayaan-kebudayaan yang masih hidup sekarang. Etnologi menaruh perhatian untuk membanding-bandingkan dan menjelaskan kesamaan dan perbedaan antar sistem kebuyaan. Linguistik dikhususkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bahasa-bahasa yang dipergunakan dalam berbagai kebudayaan.


3. Konsep-konsep dalam Antropologi

Seperti halnya disiplin ilmu social yang lain, khasanah pengetahuan yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan antropologi disusun secara hirarki dalam suatu struktur yang terdiri dari sekumpulan fakta, konsep, generalisasi dan teori. Konsep-konsep dalam antropologi cenderung didefinisikan kabur, dan dipergunakan dengan arti yang berbeda oleh para ilmuwan antropologi. Beberapa ilmuwan antropologi menyatakan bahwa pengembangan konsep yang terdefinisikan dengan baik adalah tujuan setiap disiplin ilmu, namun antropologi kekurangan konsep yang terstandar karena disiplin antropologi memang masih baru.
Berikut ini beberapa konsep penting dalam antropologi, meliputi kebudayaan, unsur kebudayaan, kompleks kebudayaan, enkultrasi, daerah kebudayaan, difusi kebudayaan, akultrasi, etnosentrisme, tradisi, relativitas kebudayaan, universal kebudayaan, ras, kelompok etnik, dan kelompok minoritas etnik.

a. Kebudayaan (culture)
Konsep paling esensial dalam antropologi adalah konsep kebudayaan. Pada tiap disiplin ilmu sosial terdapat konsep kebudayaan, yang didefinisikan menurut versi yang berbeda-beda.
Dalam antropologi, menurut Koentjaraningrat (1990), kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Dalam definisi tersebut terkandung dua hal, yaitu isi kebudayaan dan cara memperoleh atau menguasai kebudayan. Keseluruhan isi kebudayan tercakup dalam tiga kategori : system gagasan (kepercayaan), pola tindakan (tingkah laku), dan hasil tindakan manusia.Beberapa contoh isi kebudayaan adalah makanan yang kita makan, alat-alat kerja yang kita gunakan, pakaian yang kita pakai, mitos, kepercayaan dan bahasa.

Konsep kebudayaan terdiri dari :

- Kebudayaan Diperoleh dari Belajar
Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara belajar.
Dia tidak diturunkan secara bilogis atau pewarisan melalui unsur genetis.
Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang
digerakan oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang tingkahlakunyadigerakan oleh insting.
- Kebudayaan Milik Bersama
Agar dapat dikatakan sebagai suatu kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan
seorang individu harus dimiliki bersama oleh suatu kelompok manusia. Para
ahli Antropologi membatasi diri untuk berpendapat suatu kelompok
mempunyai kebudayaan jika para warganya memiliki secara bersama
sejumlah pola-pola berpikir dan berkelakuan yang sama yang didapat
melalui proses belajar.
Suatu kebudayaan dapat dirumuskan sebagai seperangkat kepercayaan,
nilai-nilai dan cara berlaku atau kebiasaan yang dipelajari dan yang dimiliki
bersama oleh para warga dari suatu kelompok masyarakat. Pengertian
masyarakat sendiri dalam Antropologi adalah sekelompok orang yang
tinggal di suatu wilayah dan yang memakai suatu bahasa yang biasanya
tidak dimengerti oleh penduduk tetangganya.
- Kebudayaan sebagai Pola
Dalam setiap masyarakat, oleh para anggotanya dikembangkan sejumlah
pola-pola budaya yang ideal dan pola-pola ini cenderung diperkuat dengan
adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan. Pola-pola kebudayaan yang
ideal itu memuat hal-hal yang oleh sebagian besar dari masyarakat tersebut
diakui sebagai kewajiban yang harus dilakukan dalam keadaan-keadaan
tertentu. Pola-pola inilah yang sering disebut dengan norma-norma.
- Kebudayaan Bersifat Dinamis dan Adaptif
Pada umumnya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena
kebudayaan melengkapi manusia dengan cara-cara penyesuaian diri pada
kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka, dan penyesuaian pada
lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya.
Banyak cara yang wajar dalam hubungan tertentu pada suatu kelompok
masyarakat memberi kesan janggal pada kelompok masyarakat yang lain,
tetapi jika dipandang dari hubungan masyarakat tersebut dengan
lingkungannya, baru hubungan tersebut bisa dipahami.

b. Unsur kebudayaan

Satuan terkecil dalam suatu kebudayaan disebut unsur kebudayaan atau trait. Unsur-unsur kebudayaan mungkin terdiri dari pola tingkah laku atau artefak. Tiap kebudayaan terdiri dari gabungan unsur-unsur yang dipinjam dari masyarakat lain dan yang ditemukan sendiri oleh masyarakat yang bersangkutan. Sebuah alat kerja berupa cangkul, suatu tradisi membuka topi untuk menghormati seorang wanita, dan sebuah rumah masing-masing adalah contoh sebuah unsur kebudayaan. Setiap unsur kebudayaan mempunyai paling sedikit empat karakterisitik berupa bentuk, kegunaan, fungsi, dan arti. Konsep kebudayan banyak dijumpai pada waktu seseorang mempelajari proses difusi dan akultrasi kebudayaan.

c. Kompleks Kebudayan
Seperangkat unsur kebudayaan yang mempunyai keterikatan fungsional satu sama lain disebut kompleks kebudayan. Sistem perkawinan pada suatu masyarakat adalah salah satu contoh kompleks kebudayaan, yang pada masyarakat Indonesia terdiri dari unsur-unsur perminangan, pernikahan secara agama, pencatatan instatansi pemerintah, dan upacara perkawinan (resepsi). Seringkali unsur-unsur kebudayaan berada dalam bentuk kompleks kebudayaan apabila mereka menyebar dari satu daerah kebudayaan ke daerah kebudayaan yang lain. Yang paling sering terjadi adalah peminjaman kebudayaan yang dipilih dari kompleks kebidayaan yang unsur-unsur didalamnya cocok dengan keperluan. Pencampuran antara unsur-unsur kebudayaan yang baru dengan yang lama disebut sinkritisme.



d. Enkultrasi
Enkultrasi adalah proses dimana individu belajar untuk berperan serta dalam kebudayaan masyarakatnya sendiri. Konsep ini hamper sama dengan sosialisasi, suatu konsep esensial dlam disiplin sosiologi. Namun demikian, sosialisasi berfokus pada proses belajar yang dibimbing terutama oleh norma dan harapan kelompok.

e. Daerah kebudayaan
Daerah kebudayaan (culture area) adalah suatu wilayah geografis yang penduduknya berbagi (sharing) unsur-unsur dan kompleks-kompleks kebudayaan tertentu yang sama. Bila para ilmuwan antropologi memetakan sebuah daerah kebudayaan, biasanya mereka menggunakan panduan yang terdiri dari unsur-unsur atau kompleks kebudayaan tertentu yang paling mudah untuk membedakan suatu daerah dari derah yang lain.

f. Difusi Kebudayaan
Proses tersebarnya unsur-unsur kebudayaan dari suatu daerah kebudayaan ke daerah kebudayaan yang lain disebut difusi kebudayaan. Konsep yang lain yang berkaitan erat dengan difusi adalah invensi, yakni proses berkembangnya suatu unsur atau artefak baru dalam suatu kebudayaan yang terjadi secara independent. Difusi kebudayaan dapat juga terjadi apabila hasil invensi di suatu daerah kebudayaan menyebar ke tempat-tempat yang semakin luas di dalam daerah kebudayaan yang bersangkutan.
Para ilmuwan antropologi menyimpulkan bahwa sebagian besar unsur-unsur yang membentuk suatu kebudayaan, pada masyarakat manapun, adalah hasil pinjaman dari daerah yang bersangkutan. Memang tidak dapat disangkal bahwa dalam batas tertentu, setiap kebudayaan telah membuat invensi, tapi jauh lebih sedikit dari pada unsur-unsur yang berasal dari luar yang masuk melalui proses difusi.

g. Akultrasi
Apabila dua masyarakat yang berbeda kebudayaannya melakukan kontak langsung satu dengan yang lainnya, maka akan terjadi pertukaran unsur-unsur tertentu antar kedua kebudayaan tersebut. Pertukatan unsur-unsur kebudayaan yang terjadi selama dua kebudayaan yang berbeda saling kontak secara terus-menerus dalam waktu yang panjang di sebut akultrasi. Akultrasi sering terjadi apabila kelompok-kelompok kuat menguasai kelompok-kelompok lemah, seperti antara penjajah dan yang dijajah.
Dalam akultrasi sering terjadi proses seleksi. Suatu kebudayaan hanya dapat menerima unsur-unsur kebudayaan laindalam batas-batas tertentu, ialah unsur-unsur yang dapat dilebur bersama atau diintegrasikan dengan unsur-unsur kebudayaan sendiri. Apabila suatu kebudayaan akan mengambil atau memakai unsur-unsur kebudayaan asing tertentu, maka unsur-unsur asing tersebut dimodifikasi sehingga menjadi serasi dengan unsur-unsur kebudayan sendiri. Apabila terjadi pemaksaan dalam penerimaan unsur-unsur kebudayaan asing, maka akan berakibat negative terhadap kebudayaan penerima, bahkan bisa menyebabkan kehancuran kebudayaan penerima tersebut.


h. Etnosentrisme
Tiap kelompok masyarakat cenderung beranggapan bahwa kebudayaan sendiri lebih unggul dari pada semua kebudayaan yang lain. Para ilmuwan antropologi melaporkan hasil studi mereka di berbagai kebudayaan di dunia bahwa pada berbagai kelompok dalam tiap kebudayaan terdapat ungkapan-ungkapan yang mengingatkan kepada diri sendiri bahwa hanya mereka sendirilah yang pantas sebagai “orang” (the people) atau “human”, yang secara tersirat bahwa semua orang di luar kelompoknya kurang “human”.

i. Tradisi
Pada setiap masyarakat selalu terdapat sejumlah tingkah laku atau kepercayan yang telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat yang bersangkutan dalam kurun waktu yang panjang yang di sebut tradisi.
Tradisi (Bahasa Latin: traditio, "diteruskan") atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah.

j. Relativitas Kebudayaan
Tiap kebudayaan mempunyai ciri-ciri yang unik, yang tidak terdapat pada kebudayaan lainnya, maka apa yang dipandang sebagai tingkah laku normal dalam suatu kebudayaan mungkin dipandang adnormal dalam kebudayaan yang lain. Jadi, patokan (standar) dalam suatu kebudayaan tidak dapat dipergunakanuntuk menilai tingkah laku dalam kebudayaan yang lain.

k. Ras dan kelompok etnik
Ras dan etnik adalah dua konsep yang berbeda, tetapi sering dikacaukan penggunaannya. Ras adalah sekelompok orang yang memiliki kesamaan dalam sejumlah unsur biologis atau suatu populasi yang meilki kesamaan unsur-unsur fisikal yang khas yang disebabkan oleh keturunan (genetic). Kelompok etnik adalah sekumpulan individu yang merasa sebagai satu kelompok karena kesamaan identitas, nilai-nilai social yang dijunjung bersama, pola tingkah laku yang sama, dan unsur-unsur budaya yang lainnya yang secara nyata berbeda dibandingkan kelompok-kelompok lainnya. Ras menunjuk kepada kelompok berdasarkan keturunan biologis, seperti ras kulithitam dan ras kulit putih. Sedangkan etnik menunjuk kepada kelompok berdasarkan kesamaan unsur-unsur social-budaya, seperti orang Jawa, orang Sunda, orang Madura, dan sebagainya.

l. Pengetahuan
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.

m. Ilmu
Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi kedalam hal yang bahan (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.

n. Norma
Norma adalah bentuk konkret dari nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat. Misalnya, nilai menghormati dan mematuhi orang tua diperjelas dan dikonkretkan dalam bentuk norma-norma dalam bersikap dan berbicara kepada orang tua. Nilai-nilai sopan santun di sekolah dikonkretkan dalam bentuk tata tertib sekolah. Jadi, pengertian norma adalah patokan-patokan atau pedoman untuk berperilaku di dalam masyarakat. Norma merupakan ukuran yang dipergunakan oleh masyarakat apakah perilaku seseorang benar / salah, sesuai / tidak sesuai, wajar/tidak, dan diterima atau tidak.
Norma berisi aturan atau ketentuan yg mengikat warga kelompok di masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yg sesuai dan diterima setiap warga masyarakat dan aturan, ukuran, atau kaidah yg dipakai sebagai tolak ukur untuk menilai atau memperbandingkan sesuatu.

o. Teknologi
Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu bagian dari sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah. Teknologi, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) berkaitan erat dengan sains (science) dan perekayasaan (engineering). Dengan kata lain, teknologi mengandung dua dimensi, yaitu science dan engineering yang saling berkaitan satu sama lainnya. Sains mengacu pada pemahaman kita tentang dunia nyata sekitar kita, artinya mengenai ciri-ciri dasar pada dimensi ruang, tentang materi dan energi dalam interaksinya satu terhadap lainnya. Sedangkan rekayasa, menurut Djoyohadikusumo (1994, 222) menyangkut hal pengetahuan objektif (tentang ruang, materi, energi) yang diterapkan di bidang perancangan (termasuk mengenai peralatan teknisnya). Dengan kata lain, teknologi mencakup teknik dan peralatan untuk menyelenggarakan rancangan yang didasarkan atas hasil sains.










4. Teori dalam Antropologi

Teori dalam antropologi berkenaan dengan perubahan kebudayaan, dan beberapa di antranya hampir sama dengan teori perubahan social yang terdapat pada sosiologi.

Teori dalam antropologi terdiri dari :

a. Teori Evolusionisme Deterministik
Evolusionisme Deterministik adalah teori tertua yang dikembangkan oleh Edward Burnet Tylor (1832-1917) dan Lewis Henry Morgan (1818-1889). Teori ini berangkat dari anggapan bahwa ada suatu hukum (aturan) universal yang mengendalikan perkembangan semua kebudayaan manusia. Menurut teori ini setiap kebudayaan mengalami evolusi melalui jalur dan fase-fase yang sudah pasti.
b. Teori Partikularisme
Pemikiran baru muncul ketika berakhirnya masa teori evolusionisme. Pemikiran baru yang menentang teori evolusionisme tersebut dipelopori oleh Franz Boas (1858-1942) yang kemudian disebut teori partikularisme historic. Boas tidak setuju dengan teori evolusi dalam hal asumsi tentang adanya hokum universal yang menguasai kebudayaan. Menurut boas, walau hanya satu unsur kebudayaanpun harus dipelajari dalam konteks masyarakat di mana unsur tersebut terdapat. Menurut teori partikularisme, perkembangan tiap kebudayaan mempunyai kekhasan sendiri-sendiri, tidak dapat digeneralisasikan ke dalam aturan yang universal.
c. Teori fungsionalisme
Teori ini dikembangkan oleh Bronislaw Malinowski (1884-1942). Teori ini berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan merupakan bagian-bagian yang berguna bagi masyarakat di mana unsur-unsur tersebut terdapat. Dengan kata lain, pandangan fungsionalis atas kebudayaan menekankan bahwa setiap pola tingkah-laku, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan suatu masyarakat, memerankan fungsi dasar di dalam kebudayaan yang bersangkutan.




5. Peranan Antropologi terhadap Ilmu Pengetahuan Sosial

Antropologi memberikan banyak pengaruh terhadap berbagai ilmu pengetahuan sosial, yaitu :
1. Antropologi memberikan pengertian tentang bagaimana kebudayaan berkembang dan mengapa kebudayaan tersebut berbeda.
2. Antropologi membantu para siswa memahami bagaimana dan mengapa orang-orang mempunyai kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
3. Antropologi dapat digunakan oleh ilmu politik untuk penelitian hubungan internasional dan memahami politik internasional, karena antropologi membahas hubungan antar berbagai jenis suku.
4. Dengan antropologi kita dapat mengetahui pola prilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara Universal maupun pola prilaku manusia pada tiap-tiap masyarakat (suku bangsa).
5. Dengan antropologi kita dapat mengetahui kedudukan serta peran yang harus kita lakukan sesuai dengan harapan warga masyarakat dari kedudukan yang kita sandang.
6. Dengan antropologi akan memperluas wawasan kita terhadap tata pergaulan umat manusia diseluruh dunia yang mempunyai kekhususan-kekhususan ayng sesuai dengan karakteristik daerahnya sehingga menimbulkan toleransi yang tinggi.
7. Dengan antropologi kita dapat mengetahui berbagai macam problema dalam masyarakat serta memiliki kepekaan terhadap kondisi-kondisi dalam masyarakat baik yang menyenangkan serta mampu mengambil inisiatif terhadap pemecahan permasalahan yang muncul dalam lingkungan masyarakatnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright 2008 All Rights Reserved | Tugas Kuliah Designed by Bloggers Template | Exercise Equipment | Watch Movies